Laman

Minggu, 23 Desember 2012

Pariwisata di kota Muara Teweh

Warga dan masyarakat di Kabupaten Barito Utara pantas bersyukur. Sebab, Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberkahi daerah subur ini dengan pesona alam nan luar biasa dan peluang ini dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata yang potensial. Sangat beralasan kiranya jika kebijaksanaan pembangunan di bidang kepariwisataan lebih difokuskan pada pengembangan potensi daya tarik wisata, baik itu menyangkut wisata alam, wisata budaya, maupun sejarah.
Namun, yang potensial untuk dikembangkan di antaranya kawasan wisata Air Terjun Jantur Doyan, yang saat ini banyak dijadikan sebagai tempat rekreasi penduduk kota Muara Teweh dan sekitarnya. Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati sejumlah keindahan alam Barito Utara lainnya, seperti Cagar Alam atau Hutan Lindung Pararawen, panorama Danau Butong, Air Terjun dan Danau Inih, serta Bendungan (dam) Irigasi Trinsing.
Selain itu, karena wilayah ini terkenal memiliki banyak dataran tinggi dengan formasi bebatuan pegunungan yang cukup tua, maka di beberapa tempat tersebar gua-gua alam yang sangat menantang bagi wisatawan petualang. Sebutlah di antaranya Gua Siapa, Gua Lambung, Gua Liang Pandan, Gua Liang Idai, dan lain-lain. Sementara pegunungan yang menyemburatkan keindahan alam yang masih asri dapat kita saksikan pada Gunung Lumut dan kawasan Gunung Angah (Benangin Air terjun Sentuyun),
Namun, puncak dari keajaiban panorama alam itu sebenarnya bisa ditemukan di dalam kawasan Cagar Alam atau Hutan Lindung Pararawen II. Di dalamnya terdapat obyek wisata yang menarik, diantaranya beragam spesies flora dan fauna, hutan tropis khas Kalimantan, dan kekayaan plasma nuftah yang masih alami.
Sementara obyek wisata budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Utara, bernilai artistik dengan cita rasa yang sangat tinggi. Warisan adiluhung budaya masyarakat daerah ini memberikan personifikasi khas akan keanekaragaman serta tingginya kemampuan cipta, rasa dan karsa para leluhur masa lalu. Hasil budaya masa lalu itu bernilai sosial, kemasyarakatan, pendidikan serta sejarah yang sangat tinggi. Berikut sejumlah obyek wisata budaya tersebut:
Rumah Betang Tambau
Keindahan alam bernuansa khas perdesaan dengan tampilan rumah adat etnik Dayak yakni Betang Tambau juga dapat dengan mudah dinikmati, seraya menghirup udara segar dengan kicauan beragam jenis burung serta gemericik kesejukan sumber mata air.
Selain rumah Betang Tambau^ kini banyak dipertunjukan jenis-jenis tarian etnik Dayak nan mempesona. Tari-tarian ini sudah cukup populer karena telah diangkat dalam bentuk sebuah festival, sehingga setiap orang bisa berpartisipasi di dalamnya. Wisatawan dapat dengan mudah menyaksikan permainan ini karena seringkali ditampilkan pada berbagai event perayaan, seperti perayaan pembukaan eksibisi/pameran, usai pesta perkawinan, menghormati tamu-tamu penting, serta pada peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus setiap tahun.
Bangkai Kapal Onrust
Seperti dijelaskan sebelumnya, kala bertandang ke Barito Utara, wisatawan dapat pula menyaksikan keindahan panorama Air Terjun Jantur Doyan, Cagar Alam atau Hutan Lindung Pararawen, panorama unik di Danau Butong, Air Terjun dan Danau Inih, serta Bendungan (dam) Irigasi Trinsing. Namun, lebih lebih dari itu, wilayah ini juga terkenal sebagai tempat wisata sejarah, karena terdapat bangkai kapal Onrust milik Belanda yang ditenggelamkan pejuang pada saat mereka memasuki daerah ini, serta berbagai makam pejuang yang dikeramatkan, yang juga banyak mendapat perhatian dan dikunjungi wisatawan.
Sisa-sisa bangkai kapal Onrust tersebut terdapat di Kelurahan Lanjas, dan merupakan kawasan obyek wisata sejarah yang menarik sembari mengenang kepahlawanan pejuang Barito pada masa itu. Bangkai kapal perang Onrust ini ditenggelamkan oleh Tumenggung Surapati dan anak buahnya, terjadi pada zaman sebelum kemerdekaan. Obyek wisata sejarah ini menjadi konstruksi penting dalam sejarah heroik perlawanan rakyat Barito Utara terhadap penjajah. Selain itu, juga ada obyek sejarah berupa Makam Sultan Muhammad Seman (putra Pangeran Antasari), dan lain-lain.
Sayangnya, isu terorisme global yang sempat mengoyak kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia pada tahun-tahun terakhir, rupanya turut mengurangi kunjungan wisatawan mancanegara. Sebab itu, kalangan industri pariwisata di dalam negeri mau tak mau harus jeli mengalihkan pasarnya kepada wisatawan nusantara (domestik). Pilihan ini, rupanya cukup efektif. Terbukti, permintaan paket wisata domestik di sejumlah biro-biro perjalanan wisata sepanjang tahun mengalami peningkatan antara 15 hingga 30 persen.
Jika kita mencermati hasil dari studi pada Kantor Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) RI bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (EPS) pada tahun 1991/1992 lalu, paling tidak kita bisa memahami profil dan karakteristik wisatawan nusantara. Menurut penelitian tersebut, wisatawan nusantara yang berpendidikan tinggi lebih cenderung mengunjungi obyek-obyek wisata yang bersifat alam. Sedangkan yang berpendidikan lebih rendah cenderung mengunjungi tempat-tempat hiburan atau rekreasi yang terletak di dalam kota.
Pada umumnya, sarana angkutan yang digunakan wisatawan nusantara paling banyak adalah kendaraan pribadi dan mobil angkutan umum, dan sebagian besar kunjungan wisata masih terkonsentrasi di Pulau Jawa
.
 #follow my twitter: @kurniawan_odet
Sumber:  http://baritoutarakab.go.id/pariwisata/

Tidak ada komentar: