Laman

Minggu, 23 Desember 2012

Obyek Wisata Yang Ada Di Banjarmasin

Ibukota Kalimantan Selatan yaitu Banjarmasin memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.
Banjarmasin adalah kota yang mendapat julukan sebagai ’Kota Seribu Sungai’ karena kota ini berada pada muara beberapa sungai secara geografis terletak pada salah satu pulau yang terbesar di Indonesia, yakni pulau Kalimantan atau yang lazim disebut pulau Borneo. Banjarmasin masuk ke dalam wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Sebuah kota yang penuh dengan keanekaragamaan Budaya. Provinsi ini mempunyai luas sekitar 36.985 km2. Banjarmasin memasuki zona waktu Indonesia bagian Tengah.
Menginjakkan kaki di Bumi Lambung Mangkurat (sebutan bagi Banjarmasin) rugi banget kalo tidak ngunjungi berbagai tempat wisatanya dan mengabadikannya. Sebuah kota yang selalu dikelilingi oleh sungai-sungai kecil, tak pernah bosan untuk dijelajahi dan dikunjungi. Kota Banjarmasin juga terkenal dengan julukan kota seribu sungai Banyak sekali, tempat-tempat yang wajib dan mesti di kunjungi jika sudah berada di kota seribu sungai ini.
Banyak sekali kegiatan masyarakat yang dilakukan di sungai termasuk kegiatan perdagangan yang dikenal dengan pasar terapung. Penduduk kota Banjarmasin masih banyak yang tinggal di atas air. Rumah-rumah penduduk dibangun diatas tiang atau diatas rakit dipinggir sungai.
Budaya sungai terus berkembang, memberikan corak budaya tersendiri dan menarik. Salah satu kegiatan wisata paling menarik di kota Banjarmasin adalah berjalan-jalan menyusuri sungai dan kanal. Daerah pinggiran kota pemandangan alam sungainya masih asli dan wisatawan dapat menyusuri sepanjang sungai Martapura dan sungai Barito dengan menggunakan perahu Klotok dan Speedboat. Pusat Kota Banjarmasin terletak di sepanjang jalan Pasar Baru, sementara kawasan perkantoran khususnya Bank terdapat di jalan Lambung Mangkurat. Sungai Barito berada di sebelah Baratnya dari pusat kota.
Sebagian besar kegiatan masyarakat di Banjarmasin terjadi sungai atau disekitar sungai. Oleh karena itu sangatlah menarik menyaksikan kehidupan Kota dari tengah sungai. Wisatawan dapat menyewakan perahu motor yang mangkal di tepi sungai dengan tarif sekitar Rp. 75.000 per jam guna memulai perjalanan menyusuri sungai melewati sejumlah lokasi penarikan dengan waktu tempuh dua hingga tiga jam.

WISATA RELIGIUS
Masjid Raya Sabilal Muhtadin
Salah satu Landmark Kota Banjarmaisn adalah Masjid Raya Sabilal Muhtadin yang berada dijalan Jendral Sudirman. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin berdiri megah dijantung kota Banjarmasin menghadap Sungai Martapura. Bangunan Masjid arsitektur modern dengan di kelilingi lima menara yang menjulang tinggi serta taman masjid yang luas dan indah. Masjid Raya Sabilal Muhtadin berlantai dua mempunyai kapasitas tempat sholat untuk 15.000 jemaah dan merupakan masjid kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan dan pusat pengkajian agama Islam.
Sabilal Muhtadin, nama pilihan untuk Mesjid Raya Banjarmasin ini, adalah sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap Ulama Besar alm. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary (1710 — 1812 M) yang selama hidup-nya memperdalam dan mengembangkan agama Islam di Kerajaan Banjar atau Kalimantan Selatan sekarang ini. Ulama Besar ini tidak saja dikenal di seluruh Nusantara, akan tetapi dikenal dan dihormati meliwati batas negerinya sampai ke Malaka, Filipina, Bombay, Mekkah, Madinah, Istambul dan Mesir.
obyek wisata banjarmasin
Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini di-bangun di atas tanah yang luasnya 100.000 M2, letaknya ditengah-tengah kota Banjarmasin, yang sebelumnya adalah Kompiek Asrama Tentara Tatas. Pada waktu zaman kolonialisme Belanda tempat ini dikenal dengan Fort Tatas atau Benteng Tatas. Bangunan Mesjid terbagi atas Bangunan Utama dan Menara; bangunan utama luasnya 5250 M2, yaitu ruang tempat ibadah 3250 M2, ruang bagian dalam yang sebagian berlantai dua, luasnya 2000 M2. Menara mesjid terdiri atas 1 menara-besar yang tingginya 45 M, dan 4 menara-kecil, yang tingginya masing-masing 21 M. Pada bagian atas bangunan-utama terdapat kubah-besar dengan garis tengah 38 M, terbuat dari bahan aluminium sheet Kalcolour ber-warna emas yang ditopang oleh su-sunan kerangka baja. Dan kubah menara-kecil garis-tengahnya 5 dan 6 M.
Kemudian seperti biasanya yang ter dapat pada setiap mesjid-raya, maka pada Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini juga, kita dapati hiasan Kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Al-Qur'an dan As-maul Husna, yaitu 99 nama untuk Ke-agungan Tuhan serta nama-nama 4 Khalifah Utama dalam Islam. Kaligrafi itu seturuhnya dibentuk dari bahan tembaga yang dihitamkan dengan pe-milihan bentuk tulisan-arab (kaligrafi) yang ditangani secara cermat dan tepat, maksudnya tentu tiada lain adalah upaya menampilkan bobot ataupun makna yang tersirat dari ayat-ayat suci itu sendiri. Demikian juga pada pintu, krawang dan railing, keseluruh annya dibuat dari bahan tembaga de ngan bentuk relief berdasarkan seni ragam hias yang banyak terdapat di daerah Kalimantan.
Dinding serta lantai bangunan, menara dan turap plaza, juga sebagian dari kolam, keseluruhannya berlapiskan marmer; ruang tempat mengambil air wudhu, dinding dan lantainya dilapis de-ngan porselein, sedang untuk plaza keseluruhannya dilapis dengan keramik. Seluruh bangunan Mesjid Raya ini, dengan luas seperti disebut di atas, pada bagian dalam dan halaman bangunan, dapat menampung jemaah sebanyak 15.000 orang, yaitu 7.500 pada bagian dalam dan 7.500 pada bagian halaman bangunan.
Peranan elemen-hias pada sebuah bangunan, bila diolah secara cermat dan diarahkan dengan tepat, akan tam-pak bukan saja sesuatu yang 'indah dimata' akan tetapi sekaligus dapat bermakna lain pada diri kita. Bisa jadi memberikan pengalaman batin yang menyentuh dan menimbulkan macam-macam perasaan, misalnya perasaan haru, kagum, syahdu dan seterusnya. Dengan ini berarti kita berbicara me-ngenai wawasan estetis dan pemilihan teknis dari seorang seniman untuk se-lanjutnya sebagai konsep dasar pijakan kreatifitasnya.
Sejalan dengan hal yang baru di-sebut di atas, maka wawasan estetis pada bangunan Mesjid Raya Sabilal Muhtadin ini dilakukan dalam tiga pokok pijakan sebagai berikut.
1. Sesuatu yang dapat memberikan dan menimbulkan rasa keagama an yang lebih dalam.
2. Ornamen-dekoratif yang selaras dan fungsional sesuai dengan arsitektur mesjid.
3. Sebagai ciri-khas atau identitas yang menunjukkan kekayaan kebudayaan lingkungan Kalimantan.
Atas dasar ini, maka elemen-estetik untuk mesjid-raya ini dibentuk dalam kaligrafi-arab dengan mengambil ayat-ayat Al-Quran, Asmaul Husna, yaitu 99 nama Keagungan Tuhan dan nama-nama 4 Khalifah Utama dalam Islam Kaligrafi ini kemudian dirangkai dan dipadu dengan unsur-unsur ragam-hias motif tumbuh-tumbuhan, yaitu sebagdi tradisi seni-hias pada bangunan bangunan mesjid seluruh dunia.
Bentuk floral (tumbuh-tumbuhan) ini memberikan sesuatu kesan hidup dan dinamis, akan tetapi yang terpenting adalah menghindarkan ke-cendrungan untuk menjadi gambar pe-mujaan, seperti halnya gambar yang bertemakan bentuk manusia dan he-wan. Demikian pula ayat-ayat suci yang dituliskan dalam bentuk khat in-dah dengan Gaya Naski, Diwani, Riqah, Tsulus dan Kufik, kiranya menimbulkan rasa kekayaan citarasa dan khayal-seni untuk meluhurkan puja kepada Tuhan.
Disain keseluruhan bangunan mesjid, dengan kubah besar, tiang-tiang kokoh dan tegap serta dinding tebal dan padat yang keseluruhan dibalut oleh le-bih kurang 14.830 M2 pualam kremmuda seakan memberikan suasana be-rat, kukuh dan kadahg-kadang terasa menekan. Kesan ini timbul balk dari eksteriornya maupun interiornya. Kesejuruhan keadaan banguann mesjid seperti disebut di atas menjadi per-timbangan dalam memperhitungkan pembuatan elemen-estetik yang akan ditempatkan dalam ruang dalam dan luar bangunan mesjid itu.
Penetapan disain krawang untuk pintu-utama, pintu samping dan din-ding, adalah upaya untuk memberikan keseimbangan antara 'rasa berat' yang ditimbulkan fisik bangunan dan 'rasa ringan' yang ditimbulkan oleh sifat 'tembus pandang' dari ornamen krawang tersebut. Lampu hias (chandelier) yang terdiri dari 17 buah unit gan-tungan dengan ribuan bola kaca ter-susun dalam lingkaran bergaris tengah 9 M, menimbulkan 'rasa-ringan' yang ditempatkan sebagai kontras terhadap fisik bangunan itu sendiri.
<---dipindahkan ke Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary Ulama-ulama yang muncul dikemudian hari, menduduki tempat-tempat penting di seluruh Keraiaan Baniar dan mendirikan syurau dan madrasah, adalah Iah dari didikan syuraunya di Pagar Dalam yang didirikannya setelah kem-bali dari menuntut ilmu di tanah Mekkah.
Di samping mendidik di syuraunya, ia juga menulis beberapa kitab dan risalah untuk keperluan murid-muridnya serta keperluan kerajaan. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kitab 'SABILAL MUHTADIN' yang merupakan kitab Hukum-Fiqh dan menjadi kitab-pegangan pada waktu itu, tidak saja di seluruh Kerajaan Banjar tapi sampai ke-seluruh Nusantara dan bahkan dipakai pada perguruan-perguruan di luar Nusantara. Selain dari pada mengajar, menulis dan dakwah, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary juga sangat memperhatikan rakyat sekitarnya. Kepada mereka beliau memberi contoh bagaimana bercocok tanam membuat pengairan untuk me-majukan pertanian penduduk.
Diriwayatkan, pada waktu Sultan Tahlilullah (1700 - 1734 M) memerintah Kerajaan-Banjar, suatu hari ketika ber-kunjung ke kampung Lok Ngabang. Sultan melihat seorang anak berusia sekitar 7 tahun sedang asyik menulis dan menggambar, dan tampaknya cerdas dan berbakat, dicerita-kan pula bahwa ia telah fasih membaca Al-Quran dengan indahnya. Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan me-minta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya ting-gal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.
Kemudian atas permintaannya sendiri, pada waktu ber-umur sekitar 30 tahun. Sultan mengabulkan keinginannya untuk belajar ke Mekkah memperdalam ilmunya, dan lebih dari 30 tahun kemudian, setelah gurunya menyatakan su-dahlah cukup bekal ilmunya, barulah ia kembali pulang ke Banjarmasin. Akan tetapi Sultan Tahlilullah seorang yang telah banyak membantu dan member! warna pada kehidupannya telah mangkat dan digantikan kemudian oleh Sultan TahmiduHah II bin Sultan HW, yaitu cucu Sultan Tahlilullah yang sejak semula telah akrab bagaikan bersahabat. Kepada Sultan Tahlilullah ia tidak sempat menyatakan terimakasih-nya ataupun memberikan pengabdiannya dan mereka ter-pisah karena jarak dan umur.
Sekembalinya dari Mekkah, hal pertama yang dikerjakan nya ialah membuka tempat pengajian (semacam pesantren) bernama Pagar Dalam, yang kemudian lama-kelamaan men-jadi sebuah kampung yang ramai tempat menuntut ilmu agama Islam.
Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Ke-rajaan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap per-kembangan serta kemajuan agama Islam dikerajaannya, meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad agar menulis sebuah Kitab Hukum Ibadat (Hukum Fiqh) yang kelak kemudian dikenal dengan nama Kitab Sabilal Muhtadin.
Sebelumnya, untuk keperluan pengajaran serta pendidikan, ia telah menulis beberapa kitab serta risalah-risalah, di-antaranya ialah Kitab Ushuluddin yang biasa disebut Kitab Sifat Duapuluh, Kitab Tuhfatur Raghibin, yaitu kitab yang membahas soal-soal itikad serta perbuatan yang sesat, Kitab Nuqtatul Ajlan, yaitu kitab tentang wanita serta tertib suami-isteri, Kitabul Fara-idl, semacam hukum-perdata. Da-ri beberapa risalahnya, dan beberapa pelajaran penting yang langsung diajarkannya, oleh murid-muridnya kemudian di-himpun dan menjadi semacam Kitab Hukum Syarat, yaitu tentang syarat syahadat, sembahyang, bersuci, puasa dan yang berhubungan dengan itu, dan untuk mana biasa disebut Kitab Parukunan. Mengenai bidang Tasauf {semacam Filsafat Ketuhanan) ia juga menuliskan pikiran-pikirannya dalam Kitab Kanzul-Makrifah.
Kitab Sabilal Muhtadin yang disebut pada mula di atas se-lengkapnya adalah Kitab Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin, dan untuk singkatnya disebut Kitab Sabilal saja; dan artinya dalam terjemahan bebas adalah Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama.
Dengan demikian maka Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary sekaligus adalah guru, ulama, dan teladan bagi mu-ridnya, dan juga penduduk sekitarnya, ia telah berbakti kepada agama dan kehidupan itu sendiri dengan setulus jiwa-raganya.
Maka pada akhirnya, sebagai akibat dari semua itu, kelak kemudian hari, suri tauladan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, seperti telah diriwayatkan di atas, membekas dan terpatri pada hati seluruh kerajaan dan penduduknya dengan kenyataan sebagaimana kita lihat sampai hari ini ialah demikian banyaknya mesjid, langgar, syurau dan madrasah didirikan dan dibangun oleh penduduk disetiap desa, kampung dan kota di seluruh Kerajaan Banjar atau di Kalimantan Selatan sekarang ini. Dan Mesjid Raya Banjarmasin ini, berdasarkan sejarah serta riwat sebagaimana telah disebut di atas, kita pahatkan namanya : SABILAL MUHTADIN
Masjid Sultan Suriansyah
Masjid Sultan Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.


Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.
Masjid Kuno
Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi : " Ba'da hijratun Nabi Shalallahu 'alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia." Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: "Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya'ban tatkala itu (tidak terbaca)" . Kedua inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanghgal 10 Sya'ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung (renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734-1759).
Pada mimbar yang terbuat dari kayu ulin terdapat pelengkung mimbar dengan kaligrafi berbunyi "Allah Muhammadarasulullah". Pada bagian kanan atas terdapat tulisan "Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17", sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : "Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri".
Mimbar Masjid Sultan Suriansyah
Filosofi Ruang
Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.
Kubah Surgi Mufti
Tuan Guru H. Surgi Mufti atau Mufti Jamaluddin adalah cicit Al-Banjari dari garis istri beliau yang keenam, bernama Ratu Aminah binti Pangeran Thaha (seorang bangsawan Kerajaan Banjar). Silsilah Tuan Guru Surgi Mufti ini adalah: Mufti Jamaluddin bin Zalekha binti Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Semasa hidupnya, Tuan Guru H. Surgi Mufti dikenal sebagai seorang ulama besar yang pemurah, ramah-tamah, dan disegani oleh semua kalangan, termasuk oleh Belanda. Banyak orang-orang yang belajar dan menuntut ilmu kepada beliau. Beliau ini menurut Abu Daudi, diangkat menjadi mufti oleh pemerintah Belanda dan berkedudukan di Banjarmasin pada tahun 1896. Beliau wafat pada tanggal 8 Muharram 1348 H (1902) dan dimakamkan di depan rumah beliau di Jalan Masjid Jami Banjarmasin.[25] Oleh Pemerintah, makam beliau kemudian ditetapkan sebagai salah satu peninggalan dan cagar budaya yang dilindungi,[26] hingga sekarang dikenal oleh masyarakat Banjar dengan nama “Kubah Sungai Jingah”. Gelar beliau juga diabadikan menjadi nama satu kelurahan dalam wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara, yakni Kelurahan Surgi Mufti.
Cungkup makam dari ulama Haji Jamaluddin (Surgi Mufti) di Banjarmasin
Kubah berasal dari bahasa Arab "qubbah" yaitu cungkup makam. Makam ini terdapat di Kelurahan Surgi Mufti, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
Makam Datu Anggah Amin (Al-Alamah Muhammad Amin)
Makam Datu Anggah Amin terletak di Kelurahan Banua Anyar Kota Banjarmasin. Datu Anggah Amin adalah ulama yang banyak menelorkan ulama. Dia tidak memiliki pesantren, tapi banyak yang datang minta petunjuk dan bimbingan pengarahan.
Makam Datu Amin yang ada di Banua Anyar
"Beliau tidak punya pondok pesantren, tapi banyak didatangi orang. Murid-muridnya banyak, dan banyak pula yang menjadi ulama besar. Sekarang banyak pula keturunan dari para muridnya yang menjadi ulama," ujarnya.
Kepada para muridnya, kata Misbah, Datu Anggah selalu berpesan agar tidak durhaka kepada orangtua dan para alim supaya hidupnya menadpat barokah.
"Beliau berpesan, jangan durhaka, jangan lupakan jasa-jasa pendahulu, terutama para alim besar, Insya Allah hidupnya akan selalu mendapat barokah," jelas Misbah.
Makam Khatib Dayan
Khatib Dayan dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah. Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Beliau menyampaikan syiar-syiar Islam dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Beliau seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.

WISATA KULINER
Soto Banjar
Soto Banjar adalah makanan khas dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan dengan bahan utama ayam dan beraroma harum rempah-rempah seperti kayu manis, biji pala, dan cengkeh.
Menu Soto banjar .
Soto berisi daging ayam yang sudah disuwir-suwir, dengan tambahan perkedel atau kentang rebus, rebusan telur, dan ketupat. Kalau Anda mampir ke Banjarmasin jangan lupa menikmati hidangan sato Banjar ini dan rasakan kenikmatan soto banjar yang khas.
Pusat Jajan Tarakan

Pusat jajan tarakan ini terletak di jalan Tarakan, Banjarmasin. Di sini tersedia berbagai macam jajanan, baik itu berupa makanan ataupun minuman, misalnya seperti makanan khas banjar, soto, jus buah dan lain sebagainya.

WISATA BUATAN
Pasar Terapung
Pasar Terapung adalah pasar tradisional yang sudah ada sejak dulu dan merupakan refleksi budaya sungai orang Banjar. Pasar yang khas lagi unik ini tempat melakukan transaksi di atas air dengan menggunakan perahu besar maupun kecil yang berdatangan dari berbagai pelosok. Pasar Terapung di Banjarmasin adalah Pasar Kuin yang terletak di persimpangan antara Sungai Kuin dan Sungai Barito.
pasar terapung kuin Kegiatan di Pasar Terapung muara Kuin Banjarmasin
Pasar Terapung hanya berlangsung pada pagi hari sekitar jam 05.00 hingga 09.00 setiap hari.
Dengan perahu Klotok dari Kota Banjarmasin dapat dicapai sekitar 30 menit. Wisatawan harus datang pagi-pagi untuk dapat melihat kesibukan Pasar Terapung ini. Salah satu
Taman Siring Sudirman
Taman siring di bantaran Sungai Martapura yang berlokasi di Jalan Sudirman persisnya di depan Masjid Raya Sabilal Muthadin. Taman siring Sudirman adalah sebuah tempat nongkrong dan santai bagi semua usia, baik itu tua dan muda serta anak-anak.


WISATA SEJARAH / WISATA BUDAYA
Museum Wasaka
"Museum Wasaka" adalah sebuah museum perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.

Wasaka singkatan dari Waja Sampai Kaputing yang merupakan motto perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.
Salah satu koleksi yang ada di Museum Wasaka
Museum bertempat pada rumah Banjar Bubungan Tinggi yang telah dialih fungsikan dari hunian menjadi museum sebagai upaya konservasi bangunan tradisional.
Terletak di Gang H. Andir, Kampung Kenanga Ulu, Kelurahan Sungai Jingah, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
Sasirangan - Kain Khas Banjar
Kain sasirangan banyak dibuat oleh pengusaha industri kecil di Kalimantan Selatan. Seperti halnya batik di Pulau jawa, kain sasirangan merupakan ciri khas daerah Kalimantan Selatan. Kain sasirangan adalah merupakan kain yang menerapkan proses pewarnaan dengan cara rintang yaitu dijahit menggunakan benang atau tali rafia menurut corak yang dikehendaki. Desain corak didapatkan dari jahitan atau dikombinasi dengan ikatan maupun komposisi warna yang dibuat. Kain sasirangan dapat dibuat dari bahan mori dengan berbagai kwalitas seperti mori primissima, mori prima, mori biru, mori voalissima, bahan sutera, rayon maupun synthetic.
sasirangan
Sasirangan adalah batik khas Kalimantan Selatan yang pada jaman dahulu digunakan untuk mengusir roh jahat dan hanya dipakai oleh kalangan orang-orang terdahulu seperti keturunan raja dan bangsawan. Proses pembuatan masih dikerjakan secara tradisional.
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.


Asal Mula Sasirangan
Menurut sejarah sekitar abad XII sampai abad ke XIV pada masa kerajaan Dipa, di Kalimantan Selatan telah dikenal masyarakat sejenis batik sandang yang disebut Kain Calapan yang kemudian dikenal dengan nama Kain Sasirangan.
Menurut cerita rakyat atau sahibul hikayat, kain sasirangan yang pertama dibuat yaitu tatkala Patih Lambung Mangkurat bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit balarut banyu. Menjelang akhir tapanya rakit Patih tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Dilihatnya seonggok buih dan dari dalam buih terdengan suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di Banua ini. Tetapi ia baru muncul ke permukaan kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung yang diselesaikan dalam sehari dan kain dapat selesai sehari yang ditenun dan dicalap atau diwarnai oleh 40 orang putri dengan motif wadi / padiwaringin. Itulah kain calapan / sasirangan yang pertama kali dibuat.
Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat-tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna. Prosesnya sering diusahakan dalam bentuk industri rumah tangga, karena tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, melalui teknik jahitan tangan dan ikatan.
Sebagai bahan baku kainnya, yang banyak digunakan hingga saat ini adalah bahan kain yang berasal dari serat kapas (katun). Hal tersebut disebabkan karena pada mulai tumbuhnya pembuatan kain celup ikat adalah sejalan dengan proses celup rintang yang lain seperti batik dan tekstil adat. Untuk saat ini pengembangan bahan baku cukup meningkat, dengan penganekaragaman bahan baku non kapas seperti : polyester, rayon, sutera, dan lain-lain.
Desain/corak didapat dari teknik-teknik jahitan dan ikatan yang ditentukan oleh beberapa faktor, selain dari komposisi warna dan efek yang timbul antara lain : jenis benang/jenis bahan pengikat.
Dengan mengkombinasikan antara motif-motif asli yang satu dengan motif asli yang lainnya, maka kain kain sasirangan makin menarik dan kelihatan modern Selain itu motif-motif tersebut dimodifikasi sehingga menciptakan motif-motif yang sangat indah namun tidak meninggalkan ciri khasnya. Adapun corak atau motif yang dikenal antara lain Kembang Kacang, Ombak Sinapur Karang, Bintang Bahambur, Turun Dayang, Daun Jaruju, Kangkung Kaombakan, Kulit Kayu, Sarigading, Parada dll.
Produk barang jadi yang dihasilkan dari kain Sasirangan yaitu Kebaya, Hem, Selendang, Jilbab, Gorden, Taplak Meja, Sapu Tangan, Sprei dll. Penggunaan Kain Sasirangan inipun lebih meluas yaitu untuk busana pria maupun wanita yang dipakai sehari-hari baik resmi atau tidak.
Motif-Motif Kain Sasirangan
Seiring dengan semakin bertambahnya wawasan para perajin, kini motif sasirangan bervariasi dan mengakomodasi selera daerah
lain yang lebih universal. Motif-motif baru bermunculan yang dikembangkan dari motif tradisional.
Sasirangan setidaknya mengenal 19 motif, di antaranya sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang),
hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun
jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), dan kulat karikit (jamur kecil).
Ada juga motif gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang(garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), jajumputan
(jumputan), kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putri
menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), dan benawati (warna pelangi).
Motif-motif tradisional itu kini dihidupkan kembali dengan selera populer. Motif sarigading kini dibuat lebih halus dan bahkan
telah diberi hiasan garis emas (prada). Teknik prada tersebut merupakan adopsi dari teknik prodo yang dikenal pada batik.
Bahan-Bahan Pembuatan Kain Sasirangan
a. Kain
Pada awalnya, bahan baku untuk membuat kain adalah serat kapas (katun). Dalam perkembangannya, bahan baku kain Sasirangan tidak hanya kapas, tetapi juga non kapas, seperti: polyester, rayon, sutera, dan lain-lain (www.sinarharapan.co.id).
b. Pewarna
Secara umum, ada dua macam bahan yang digunakan sebagai pewarna, yaitu pewarna alami dan kimiawi. (1) bahan pewarna alami, di antaranya adalah: daun pandan, temulawak, dan akar-akar seperti kayu kebuau, jambal, karamunting, mengkudu, gambir, dan air pohon pisang. (2) bahan pewarna kimiawi. Oleh karena bahan-bahan pewarna alami sulit didapat dan prosesnya sangat lama (hingga berhari-hari), maka para pengrajin kain Sasirangan banyak beralih menggunakan pewarna kimia, selain bahan bakunya mudah didapat, prosesnya pewarnaannya juga lebih mudah dan cepat.
Jenis zat pewarna kimiawi yang sering digunakan antara lain: warna direct, warna basis, warna asam, warna belerang, warna hydron, warna bejana, warna bejana larut, warna napthol, warna disperse, warna reaktif, warna rapid, warna pigmen dan warna oksidasi. Selain itu, untuk menambah kesan anggun dan mewah juga digunakan zat warna prada (http://ikm.depperin.go.id dan http://rubiyah.com).
c. Perintang atau pengikat
Selain kedua jenis bahan utama di atas, bahan lain yang diperlukan dalam pembuatan kain Sasirangan adalah bahan perintang atau pengikat. Bahan perintang tersebut biasanya terbuat dari benang kapas, benang polyester, rafia, benang ban, serat nanas dan lainnya.
Fungsi bahan perintang tersebut adalah untuk menjaga agar bagian-bagian tertentu dari kain terjaga dari warna yang tidak diinginkan. Oleh karenya, bahan perintang harus mempunyai spesifikasi khusus, di antaranya adalah (http://rubiyah.com):
Tidak dapat terwarnai oleh zat warna, sehingga mampu menjaga bagian-bagian tertentu dari zat warna yang tidak diinginkan.
Mempunyai konstruksi anyaman maupun twist yang padat.
Mempunyai kekuatan tarik yang tinggi.
Proses Pembuatan Kain Sasirangan
Kata Sasirangan berasal dari kata sirang yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya, atau dalam istilah bahasa jahit-menjahit disebut dismoke/dijelujur. Kemudian kain yang telah dismoke disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan. Adapun proses pembuatan kain Sasirangan adalah sebagai berikut:
a. Penyiapan bahan kain dan pewarna.
Tahapan paling awal pembuatan kain Sasirangan adalah pengadaan kain dan pewarna kain. Saat ini, telah tersedia banyak macam kain yang siap pakai, sehingga untuk membuat kain Sasirangan tidak perlu lagi dimulai dengan pemintalan kapas.
Hanya saja, biasanya kain-kain yang dijual ditoko kain sudah difinish atau dikanji. Padahal, kanji tersebut dapat menghalangi penyerapan kain terhadap zat pewarna. Oleh karenanya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah penghilangan kanji dari kain.
Untuk menghilangkan kanji, ada tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu: (1) Direndam dengan air. Kain yang hendak dibuat Sasirangan direndam dalam air selama satu atau dua hari, kemudian dibilas. Namun cara ini tidak banyak disukai, karena prosesnya terlalu lama dan ada kemungkinan timbul mikro organisme yang dapat merusak kain. (2) Direndam dengan asam. Kain direndam dalam larutan asam sulfat atau asam chlorida selama satu malam, atau hanya membutuhkan waktu dua jam jika larutan zat asam tersebut dipanaskan pada suhu 350 C. Setelah itu, kain dibilas dengan air sehingga kain terbebas dari zat asam. (3) Direndam dengan enzym. Bahan kain yang hendak dibuat Sasirangan dimasak dengan larutan enzym (Rapidase, Novofermasol dan lain-lain) pada suhu sekitar 450 C selama 30 s/d 45 menit. Setelah itu, kain direndam dalam air panas dua kali masing-masing 5 menit, dan kemudian dicuci dengan air dingin sampai bersih.
b. Pengadaan pewarna kain
Selain pengadaan kain, hal lain yang harus dipersiapkan adalah zat pewarna, baik yang alami atau kimiawi. Kecermatan penggunaan pewarna merupakan hal yang sangat penting dalam pembuatan kain Sasirangan. Oleh karenaya, dalam pengadaan pewarna harus memperhatikan hal-hal berikut:
- Harus mempunyai warna sehingga dapat meng-absorbs cahaya.
- Dapat larut dalam air atau mudah dilarutkan.
- Zat warna harus mempunyai affinitas terhadap serat (dapat menempel), tidak luntur, dan tahan terhadap sinar matahari.
- Zat warna harus dapat berdifusi pada serat.
- Zat warna harus mempunyai susunan yang stabil setelah meresap ke dalam serat.
c. Pembuatan pola desain dan jahitan
Setelah kain bersih dari kanji, maka tahap selanjutnya adalah pemotongan dan penjahitan. Adapun prosesnya sebagai berikut:
Kain dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan. Jika yang hendak dibuat adalah kain Sasirangan untuk selendang, maka kain dipotong sesuai ukuran selendang yang hendak dibuat.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pembuatan pola motif. Kemudian pola motif tersebut dijahit (dismoke) menggunakan benang (atau bahan perintang lainnya) dengan jarak 1 - 2 mm atau 2 -3 mm.
Benang pada setiap jahitan-jahitan pola tersebut ditarik kencang sampai rapat dan membentuk kerutan-kerutan.
d. Pewarnaan pada kain
Setelah pola kain dijahit, maka tahap selanjutnya adalah pewarnaan. Pewarnaan merupakan proses yang cukup rumit sehingga membutuhkan keahlian khusus. Pewarnaan tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, tetapi harus dilakukan secara teliti dan cermat berdasarkan kepada jenis kain dan kombinasi warna yang akan dibuat. Dengan ketelitian dan kecermatan, maka akan dihasilkan sebuah kombinasi warna yang elok dan anggun.
Secara garis besar, proses pewarnaan kain Sasirangan adalah sebagai berikut:
Zat pewarna yang hendak digunakan dilarutkan menggunakan air, atau medium lain yang dapat melarut zat warna tersebut.
Kemudian kain yang telah dismoke dimasukkan ke dalam larutan zat pewarna atau dengan dicolet (seperti membatik) dengan larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat. Ada tiga cara pewarnaan kain Sasirangan, yaitu: (1) Pencelupan. Tehnik pencelupan digunakan apabila yang diinginkan hanya satu warna saja. Kain yang dicelup ke dalam larutan zat pewarna akan mempunyai satu warna yang rata kecuali pada bagian kain yang dijahit/dismoke akan tetap berwarna putih. (2) Pencoletan. Kain pada bagian yang telah dismoke ataupun di antara smoke-smoke diwarnai dengan cara dicolet. Pewarnaan dengan cara dicolet biasanya dilakukan apabila motif yang dibuat memerlukan banyak warna (lebih dari satu warna). Tentu saja, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama dari sistem celupan. (3) Pencelupan dan Pencoletan. Cara ini menggabungkan kedua tehnik di atas. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan cara mencelupkan kain. Biasanya cara ini digunakan untuk membuat warna dasar pada kain. Kemudian dicolet dengan variasi warna sebagaimana telah direncanakan.
Setelah itu diteliti dengan seksama tingkat kerataan pewarnaannya. Caranya ini harus dilakukan agar hasilnya maksimal.
e. Pelepasan Jahitan
Setelah proses pewarnaan kain Sasirangan selesai, kemudian kain dicuci sampai bersih dengan menggunakan air dingin.
Selanjutnya jahitan-jahitan pada kain dilepas.
Kain yang sudah dicuci kemudian dijemur, tetapi tidak boleh terkena sinar matahari langsung.
f. Finisihing
Proses terakhir dari pembuatan kain Sasirangan adalah proses penyempurnaan, yaitu merapikan kain agar tidak kumal. Untuk merapikan kain, biasanya dengan menggunakan strika.
(pembuatan kain Sasirangan dengan cara-cara mistis dan untuk keperluan penyembuhan dalam proses pengumpulan data).
Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa kain Sasirangan merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari local knowledge (pengetahuan lokal) masyarakat Kalimantan Selatan. Dengan kata lain, dengan “membaca” kain Sasirangan, maka akan diketahui beraneka macam nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Kalimantan Selatan. Di antara nilai-nilai tersebut adalah: nilai keyakinan, nilai budaya, dan nilai ekonomi.
Pertama, nilai keyakinan. Dengan meneroka sejarah keberadaan kain Sasirangan, maka akan diketahui pola perkembangan keyakinan masyarakat Kalimantan Selatan. Keyakinan masyarakat bahwa kain tersebut pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat untuk memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai prasayarat untuk menampakkan diri, menunjukkan bahwa kain Sasirangan mempunyai nilai supranatural. Oleh karenanya, masyarakat Kalimantan Selatan juga meyakini bahwa kain ini mempunyai kekuatan untuk mengusir roh-roh jahat. Keyakinan tersebut secara jelas menunjukkan bahwa kain ini merupakan pengejawantahan dari keyakinan masyarakat Kalimantan Selatan.
Kedua, nilai budaya. Kain Sasirangan merupakan salah satu bentuk pencapaian kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan. Pemilihan bahan, cara pewarnaan, warna yang digunakan, dan pembuatan motif-motifnya, merupakan pengejawantahan dari hasil membaca dan memahami masyarakat Kalimantan Selatan terhadap alam dan fenomenanya. Selain itu, munculnya motif-motif kombinasi juga menunjukkan kreatifitas orang Kalimantan Selatan. Dengan kata lain, kain Sasirangan merupakan hasil dari pemikian masyarakat Kalimantan Selatan yang termanifestasi dalam produk yang memiliki nilai kultural.
Ketiga, nilai ekonomis. Seiring perkembangan zaman, masyarakat semakin menyadari adanya potensi ekonomi yang terkandung dalam kain Sasirangan. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya penggunaan kain Sasirangan, dari sekedar alat pengusir roh-roh jahat menjadi berbagai macam aneka produk, seperti baju pesta, sandal, tas, dan dompet. Selain itu, semakin dihargainya hasil kerajinan lokal memberikan nilai tambah ekonomis pada Sasirangan. Namun demikian, harus juga diperhatikan bahwa ekonomisasi tanpa memahami spirit yang terkandung dalam Sasirangan dapat menghilangkan “ruh” yang ada di dalamnya. Penggunaan pewarna kimiawi misalnya, mungkin saja akan lebih mengefektifkan pembuatan kain Sasirangan, tetapi juga harus disadari bahwa penggunaan pewarna kimia dapat merusak nilai-nilai lokal yang terkandung dalam kain Sasirangan.

-Smoga bisa bermanfaat bagi kita semua-

#follow my twitter: @kurniawan_odet
Sumber: http://www.urangbanua.com/obyek-wisata-banjarmasin-kalimantan-selatan.html

Pariwisata di kota Muara Teweh

Warga dan masyarakat di Kabupaten Barito Utara pantas bersyukur. Sebab, Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberkahi daerah subur ini dengan pesona alam nan luar biasa dan peluang ini dapat dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata yang potensial. Sangat beralasan kiranya jika kebijaksanaan pembangunan di bidang kepariwisataan lebih difokuskan pada pengembangan potensi daya tarik wisata, baik itu menyangkut wisata alam, wisata budaya, maupun sejarah.
Namun, yang potensial untuk dikembangkan di antaranya kawasan wisata Air Terjun Jantur Doyan, yang saat ini banyak dijadikan sebagai tempat rekreasi penduduk kota Muara Teweh dan sekitarnya. Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati sejumlah keindahan alam Barito Utara lainnya, seperti Cagar Alam atau Hutan Lindung Pararawen, panorama Danau Butong, Air Terjun dan Danau Inih, serta Bendungan (dam) Irigasi Trinsing.
Selain itu, karena wilayah ini terkenal memiliki banyak dataran tinggi dengan formasi bebatuan pegunungan yang cukup tua, maka di beberapa tempat tersebar gua-gua alam yang sangat menantang bagi wisatawan petualang. Sebutlah di antaranya Gua Siapa, Gua Lambung, Gua Liang Pandan, Gua Liang Idai, dan lain-lain. Sementara pegunungan yang menyemburatkan keindahan alam yang masih asri dapat kita saksikan pada Gunung Lumut dan kawasan Gunung Angah (Benangin Air terjun Sentuyun),
Namun, puncak dari keajaiban panorama alam itu sebenarnya bisa ditemukan di dalam kawasan Cagar Alam atau Hutan Lindung Pararawen II. Di dalamnya terdapat obyek wisata yang menarik, diantaranya beragam spesies flora dan fauna, hutan tropis khas Kalimantan, dan kekayaan plasma nuftah yang masih alami.
Sementara obyek wisata budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Barito Utara, bernilai artistik dengan cita rasa yang sangat tinggi. Warisan adiluhung budaya masyarakat daerah ini memberikan personifikasi khas akan keanekaragaman serta tingginya kemampuan cipta, rasa dan karsa para leluhur masa lalu. Hasil budaya masa lalu itu bernilai sosial, kemasyarakatan, pendidikan serta sejarah yang sangat tinggi. Berikut sejumlah obyek wisata budaya tersebut:
Rumah Betang Tambau
Keindahan alam bernuansa khas perdesaan dengan tampilan rumah adat etnik Dayak yakni Betang Tambau juga dapat dengan mudah dinikmati, seraya menghirup udara segar dengan kicauan beragam jenis burung serta gemericik kesejukan sumber mata air.
Selain rumah Betang Tambau^ kini banyak dipertunjukan jenis-jenis tarian etnik Dayak nan mempesona. Tari-tarian ini sudah cukup populer karena telah diangkat dalam bentuk sebuah festival, sehingga setiap orang bisa berpartisipasi di dalamnya. Wisatawan dapat dengan mudah menyaksikan permainan ini karena seringkali ditampilkan pada berbagai event perayaan, seperti perayaan pembukaan eksibisi/pameran, usai pesta perkawinan, menghormati tamu-tamu penting, serta pada peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus setiap tahun.
Bangkai Kapal Onrust
Seperti dijelaskan sebelumnya, kala bertandang ke Barito Utara, wisatawan dapat pula menyaksikan keindahan panorama Air Terjun Jantur Doyan, Cagar Alam atau Hutan Lindung Pararawen, panorama unik di Danau Butong, Air Terjun dan Danau Inih, serta Bendungan (dam) Irigasi Trinsing. Namun, lebih lebih dari itu, wilayah ini juga terkenal sebagai tempat wisata sejarah, karena terdapat bangkai kapal Onrust milik Belanda yang ditenggelamkan pejuang pada saat mereka memasuki daerah ini, serta berbagai makam pejuang yang dikeramatkan, yang juga banyak mendapat perhatian dan dikunjungi wisatawan.
Sisa-sisa bangkai kapal Onrust tersebut terdapat di Kelurahan Lanjas, dan merupakan kawasan obyek wisata sejarah yang menarik sembari mengenang kepahlawanan pejuang Barito pada masa itu. Bangkai kapal perang Onrust ini ditenggelamkan oleh Tumenggung Surapati dan anak buahnya, terjadi pada zaman sebelum kemerdekaan. Obyek wisata sejarah ini menjadi konstruksi penting dalam sejarah heroik perlawanan rakyat Barito Utara terhadap penjajah. Selain itu, juga ada obyek sejarah berupa Makam Sultan Muhammad Seman (putra Pangeran Antasari), dan lain-lain.
Sayangnya, isu terorisme global yang sempat mengoyak kepercayaan dunia luar terhadap Indonesia pada tahun-tahun terakhir, rupanya turut mengurangi kunjungan wisatawan mancanegara. Sebab itu, kalangan industri pariwisata di dalam negeri mau tak mau harus jeli mengalihkan pasarnya kepada wisatawan nusantara (domestik). Pilihan ini, rupanya cukup efektif. Terbukti, permintaan paket wisata domestik di sejumlah biro-biro perjalanan wisata sepanjang tahun mengalami peningkatan antara 15 hingga 30 persen.
Jika kita mencermati hasil dari studi pada Kantor Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Deparpostel) RI bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik (EPS) pada tahun 1991/1992 lalu, paling tidak kita bisa memahami profil dan karakteristik wisatawan nusantara. Menurut penelitian tersebut, wisatawan nusantara yang berpendidikan tinggi lebih cenderung mengunjungi obyek-obyek wisata yang bersifat alam. Sedangkan yang berpendidikan lebih rendah cenderung mengunjungi tempat-tempat hiburan atau rekreasi yang terletak di dalam kota.
Pada umumnya, sarana angkutan yang digunakan wisatawan nusantara paling banyak adalah kendaraan pribadi dan mobil angkutan umum, dan sebagian besar kunjungan wisata masih terkonsentrasi di Pulau Jawa
.
 #follow my twitter: @kurniawan_odet
Sumber:  http://baritoutarakab.go.id/pariwisata/

Muhammad Arsyad Al - Banjary

Sedaun sirih, cerita tentang asal mula kampus swasta yang berada tepat di kalimantan selatan.
yaitu UNISKA ( universitas islam kalimantan ) memang di lihat sekilas gak ada sangkut pautnya dengan kampus tapi ini hanya sekedar obsesi mural
dimana para seni mengakpresiasikan segala uneg - unegnya di media apapun walau hanya sebuah coretan belaka ^_^
A. RIWAYAT SINGKAT
1. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary
Tulisan ini di himpun dari berbagai litaratur dan makalah yang di sajikan oleh Pemakalah Dr.H.Abdurahman.SH.MH dengan Prof.Aswadie Syukur.LC pada diskusi Ilmiah “Pemahaman Kitab Sabilal Muhtadin Karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary Dalam Perspektif Hukum Islam” yang di selenggarakan oleh Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary dalam rangka kegiatan Lustrum V dan HUT UNISKA XXV pada tanggal 20 mei 2006 di Banjarmasin
2. Profil Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary
Pada abad ke- 18 di kawasan Kalimantan terdapat seorang Ulama besar yang sangat Kharismatik, terkenal bukan saja di kalimantan tapi di seluruh Asia Tenggara. Beliau adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary yang terkenal melalui karya tulisnya Kitab “ Sabilal Muhtadin Li-Al Tafaquhi-Fi-Al-Din” yang selalu di baca dan di jadikan rujukan dalam Ilmu Fiqih. Bibliografi tentang tanggal kelahirannya Syekh Muhammad Al-Banjary oleh beberapa kalangan di kemukakan sebagai berikut :
  1. Menurut Syekh Abdurahman Siddik dalam Risalah Sarajatul Arsyadiyah (1973) menyebut nama Beliau Syekh Muhammad Arsyad Bin Abdullah Al-Banjary, di lahirkan di kampung Lok Gabang pada jaman Pemerintahan Sultan Tamidillah Bin Sultan Tamjidillah pada tanggal 13 safar 1122, (Siddik, 1973:4)
  2. Abu Daudi: mengacu pendapat Alimul Alamah H. Muhammad Arsyad, bahwa Syekh Rasyad Al-Banjary bukan lahir pada tanggal 13 safar 1122, tetapi pada tanggal 15 safar 1122 bertepatan dengan kamis malam tanggal 19 maret 1710 m yang ketika kecilnya di beri nama Muhammad Ja`far (Daudi : 2003:03)
  3. Ahmad Basuni : menyatakan bahwa beliau di lahirkan pada 13 safar 1122 atau pada tahun 1703 di masa Pemerintahan Sultan Hidayatullah (Basuni : 1949:39)
  4. Yusuf Halidi : Syekh Muhammad Arsyad lahir pada tanggal 13 safar 1122 atau tahun 1710 m di masa Pemerintahan Sultan Tahillah (Halidi :1984 : 5-6)
  5. Zafri Zam-Zam berpendapat : Syekh Muhammad Arsyad lahir tanggal 13 safar 1122 atau lahir tahun 1710 di masa Pemerintahan Sultan Tahlillah (1700-1734) (Zam-Zam : 1974:6)
Sedangkan menurut Abu Daudi dikatakan bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary di lahirkan pada masa Pemerintahan Sultan Tahmidillah atau Sultan Hamidullah Bin Sultan Tahlil yang memerintahkan tahun 1700-1734 ( daudi : 2003 :20). Sultan ini harus di bedakan dengan Sultan Tahmidullah yang memerintah tahun 1787-1801.
Sultan inilah yang meminta kepada Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary untuk menulis Kitab Sabilal Muhtadin dalam tahun 1779 ( Daudi 2003: 20-30)
Mengenai Sultan yang memerintahkan di masa kehidupan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary dapat di lihat dari sejarah Banjar yang di terbitkan oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan (2003) sebagai berikut:
1. (1700-1734) : Sultan Hamidullah dengan Gelar Sultan Kuning
2. (1734-1759) : Pangeran Tamjid Bin Sultan Amirullah Bagus Kusuma bergelar Sultan Tamjidillah menggantikan Pangeran Muhammad anak dari Sultan Kuning yang masih belum dewasa.
3. (1759-1761) : Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah Bin Sultan Kuning
4. (1761-1801) : Pangeran Natadilaga adalah sebagai wali putra Sultan Muhammad Aliuddin yang pada masa itu masih belum dewasa, tetapi memegang pemerintahan dan bergelar Sultan Tahmidullah
5. (1801-1925) : Sultan Sulaeman Al – Mumtamidullah Bin Sultan Tahmidullah (Ideham, 2003:70-71)
Jadi selama hidupnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary sempat mengalami lima masa kesultanan yang memerintahkan kerajaan banjar.
a. Asal usul Syekh Muhammad Aryad Al-Banjary
Dalam risalah Sarajatul Arsyadiyah (1937), Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al-Banjary “(Siddik, 1937:4) yang dilahirkan di kampung Lok Gabang pada jaman Sultan Tahmidillah.
Sultan Tamjidillah pada tanggal 13 Safar 1122, sedangkan Mufarida Zien mengacu pada tulisan Abu Daudi, manaqib Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary pada peringatan haul ke-184 dalam pagar, martapura 1991, menyatakan bahwa beliau berasal dari keturunan seorang sayed yang datang dari Magribi (Zein,1994:14)
Sedangkan Adu Daudi sendiri mengacu pada pendapat Amlimul Allamah Muhammad khatib bin Alimul Allamah Pangeran H.Ahmad Mufti Bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjar “ menegaskan bahwa Abdullah bukan asli bukan orang banjar. Beliau datang dari hindi dan menetap di Lok Gabang sampai akhir hayat. Beliau mempunyai keahlian keahlian dalam seni ukir kayu, beliau juga termasuk orang yang dikasihi oleh sultan di masa itu.
Menurut pendapat lain mengatakan, konon kabarnya beliau sengaja di datangkan dari pedalaman, tepatnya di kampung Jambu dekat kota Kandangan untuk melakukan kegiatan pertukangan (seni ukir kayu untuk pembangunan istana ) daudi,2003:37.
Selanjutnya di kemukakan Dr.Abdurahman,SH,MH. Bahwa beliau adalah keturunan dari Sultan Mindanau di Pilipina yang melarikan diri ketika berperang dengan Portugis (Abdurahman, 1992: 25)
Sedangkan Muchlis Shabir yang mengacu pada tulisan Baliq yang datang dari Magribi kepilipina dengan mendirikan kerajaan islam mindanau, konon istilah “Mindanau” berasal dari kata Min Indiana yang bermakna “dari kerabat kita” sewaktu salah seorang putranya yang bernama Addur Rasyid bermaksud pergi ke mekkah dengan menumpang angkutan perahu, kemudian dalam perjalanan mengarungi laut.perahu tersebut di terjang badai sehingga mengakibatkan kapal yang ditumpanginya hanyut terbawa arus hingga ke muara banjar.
Selanjutnya beliau naik kedarat menyamar sebagai orang biasa, kemudian menikah dengan seorang perempuan suku banjar dan melahirkan beberapa anak di antaranya Abu Bakar dan kemudian Abu Bakar inilah yang melahirkan Abdullah (Shabir, 2005:6)
3. Karya utama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary di kenal sebagai seorang Ulama terkemuka, juga beliau sebagai seorang pengarang. Para penulis mengungkapkan perihal jumlah karya-karya yang beliau tulis mengenai jumlah atau penyebutannya.
1. Sumber tertua yang di susun oleh K.H.Abdurahman Siddik (1857-1939) dalam risalah Sarajatul Arsyadiyah (1939:9-10) hanya menyebutkan 7 karya beliau. Sirajuddin Abbas (1905-1908) menyebutkan ada 8.
2. H.M. Sagir Abdullah menyebutkan ada 10 buah karya tulis beliau.
3. Abu Daudi dalam bukunya menyebutkan ada 11 kitab yang ditulis Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.
4. Dalam karya tulis Haji Jumri Bin haji Roys menyebutkan ada 13 judul karya tulis yang beliau hasilkan
5. dalam penelitian yang dilakukkan oleh Mufrida Zein di kampung dalam Pegar Martapura menemukan sebanyak 14 karya tulis yang di hasilkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary.
Sebenarnya masih banyak sumber-sumber entang karya tulis beliau yang dapat di kemukakan dalam tulisan ini seperti :
1. Ushul ad Din (1188.II)
2. Tuhfat ar Raghibin fi BaHaqiqat Iman Al-Mukminin wa ma Yufsiduh min Riddat al min (1188.H)
3. Kitab Al –Faraidh
4. Kitab An-Nikah, pernah diterbitkan di Istambul 1304 dan pada tahun 1418 dicetak ulang yayasan pendidikan islam dalam pagar (YAPIDA) martapura Luq That Al-Alan/Al-Qoul Al-Mukhtashar Fi alamat Ald Al-Muktahar pada tahun 1196
5. Kanz Al-Ma`rifah
6. Ilmu Falaq
7. Fatwa Sulaiman Kurdi
8. Mushaf Al-Qur`an Al-Karir
9. Sabilal Al-Muhtadin, yang lengkapnya berjudul Sabil Al-Muhtadin li at Tafaqquh fi amr ad din ini merupakan Fiqh Melayu yang sangat terkenal di Nusa, Malaysia, Thailand dan Kamboja dan merupakan hasil karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary yang monumental. Kitab ini tersimpan di berbagai perpustakaan- perpustakaan besar dunia seperti Mekah, Mesir, Turki, dan Bairut.(Shabir,2005:19-2)
  1. Latar Belakang Berdirinya Uniska.
Pembangunan daerah kalimantan selatan telah mencapai titik perkembangan di segala aspek kehidupan masyarkat, bergerak semakin cepat yang melibatkan semua unsur manusiawinya. Pembangunan daerah memerlukan tenaga yang terampil berdaya guna dan berhasil guna dan berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luas.
Salah satu sector pembangunan tersebut adalah sector pendidikan, baik di tingkat dasar, menengah dan utamanya di tingkat perguruan tinggi yang mencetak sarjana sebagai penerus pelaksana pembangunan yang bekerja secara interdisipliner dan menanggulangi segala permasalahan secara pragmatis.
Untuk memenuhi harpan tersebut, sebagai realisasi falsafah pendidikan yang berdasarkan UU pendidikan no 45 tahun 1961 serta UU Perguruan Tinggi no 22 tahun 1961. perwujudan pelaksanaan Tridarma perguruan tinggi sangat wajar, kalimantan selatan memiliki perguruan tinggi islam yang mengingat penduduknya sebagian besar menganut agama islam dan kota madya banjarmasin sebagai ibukota propinsi kalimantan selatan.
Sebelumnya telah memiliki perguruan tinggi universitas lambung mangkurat, yang keberadaannya belum dapat menampung semua aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat sebab pada waktu itu terjadi ledakan lulusan SMTA. Atas dasar tersebut, bapak gubernur kepala daerah tingkat 1 propinsi kalimantan selatan, melaui serat rekomendasi No,135/ rek/ kes/ 1981 tanggal 18 juli 1981 dan kepala kantor wilayah dekdikbud propinsi kalimantan selatan dengan suratnya no42/1.152/1.81 tanggal jli 1981. atas dasar rekomendasi tersebut maka di rintislah bina universitas islam kalimantan
  1. Sejarah Singkat Lahirnya Uniska
K.H.Zafri Zam Zam pada tahun 1961 di kalimantan selatan di dirikan Universitas Islam Antasari (UNISAN) yang mempunyai cabang-cabang hampir di semua Universitas Tk.II kalimantan selatan, padat itu unisan satu-satunya pts di daerah ini. Kurang lebih 3 tahun, pada tahun 1964 unisan resmi menjadi IAIN antasari sebagi IAIN sunan kalijaga cabang banjarmasin, dengan restu almarhum K.H.Zafri zam zam sendiri. Kemudian dalam sejarah kalimantan selatan yang berlangsung di banjarmasin tanggal 23s/d 25 september 1973 yang di susul lagi dengan seminar sejarah kalimantan selatan tanggal 8 s/d 10 april 1976 para tergugah kembali gagasan mendirikan perguruan tinggi yang mengambil nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari untuk kenangan kenangan akan jasa yang sangat besar sebagai tokoh pembaharu penyebar agama islam pertama di kalimantan selatan.
Gagasan yang di maksud merupakan perwujudan dari keinginan dua orang tokoh agama dan ilmuan yaitu K.H. Zafri Zam Zam (Rektor IAIN antasari) dan Prof.Anwari ( Rektor Universitas Lambung Mangkurat), namun gagsan tersebut belum terwujud karena kedua tokoh di atas telah meninggal dunia, akhirnya keinginan kedua tokoh tersebut juga merupakan keinginan masyarakat kalimantan yang berdomisili di Jakarta, maka pada tahun 1981 didirikanlah yayasan universitas islam kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan akte notaris no.6tanggal 7 juli 1981 dengan rekomendasi kepala kantor dekdikbud propinsi kalimantan selatan,di rintis pendirian Uniska yang pada tahun akdemik 1981/1982 itu juga, tepatnya tanggal 14 juli 1981 pada tahap permulaan di buka akademi yaitu ;
Akademi yang pertama kali didirikanlah Publisistik, dengan jumlah mahasiswa baru 125 orang sebagai kepedulian terhadap dunia pendidikan gubernur kepala daerah tingkat 1 propinsi kalimantan selatan berkenan meresmikan pembukaan fakultas tersebut, di samping di bukanya akademi publisistik juga didirikan Akademi Bahasa Asing dengan 125 orang mahasiswa baru yang peresmian pembukaannya oleh kepala kantor wilayah Depdikbud propinsi kalintan selatan
Guna menambah pengalaman untuk perkembangan uniska selanjutnya di adakan studi banding pada januari 1982 dengan mengutus Drs.H.M Amberipane dan dua orang dari unsur Yayasan Perwakilan Jakarta yaitu Drs.H.M.E.Z Muttaqien (Rektor Unisba dan Ketua Gabungan PTS) memberikan petunjuk bimbingan agar akademik-akademik tersebut dapat segera di tingkatkan setatusnya menjadi Fakultas melalui prosedur yang sudah di tetapkan oleh Mendikbud dan segera menghubungi koordinator Kopertis wilayah VII Surabaya.
Setelah melalui proses panjang dalam rangka mempersiapkan proses usulan peningkatan akademi menjadi Fakultas, maka pada tahun 1982/1983 yang merupakan tahu ke-2.
Yayasan Uniska mengubah nama kedua akademi tersebut menjadi Fakultas dengan Fakultas yang di bina ialah :
  1. Akademi Publisistik menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (fisip) Jurusan Komunikasi dengan Program Studi Jurnalistik, dan Jurusan Administrasi dengan program studi Administrasi Negara
  2. Akademi Bahasa Asing menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Bahasa Dan Seni Program Studi Bahasa Ingris, dan Jurusan Ilmu Pendidikan dengan program studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan. Bersamaan dengan berdirinya pula Fakultas Baru yakni Fakultas Ekonomi dengan Jurusan Manajemen Program Studi Manajemen Perusahaan dan Fakultas Pertanian dengan jurusan Peternakan program studi Produksi Ternak.
Dalam bulan Februari 1985, keempat Fakultas tersebut telah mendapat status terdaftar di Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI dengan SK. Mendikbud no 070/O/1986 tanggal 23 mei 1986.
Status terdaftar suatu perguruan tinggi swasta merupakan Manifestasi kepercayaan pemerintah kepada uniska dalam pengelolaan perguruan tinggi di bawah koordinasi kopertis wilayah VII Surabaya dan di lanjutkan pada tahun 1990 di bawah koordinasi kopertis wilayah XI kalimantan selatan di Banjarmasin
Berikutnya pada tahun 1993 itu pula pemerintah memberikan kepercayaan kepada uniska dengan di berikannya statusnya dari “terdaftar” menjadi “diakui” kepada keempat Fakultas yakni Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Poltik, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonmi Dan Fakultas Pertanian, sesuai dengan SK Dirjen Depdikbud RI Nomor 625/Dikti/Kep/1993 tanggal 23 november 1993.
Selanjutnya pada fakultas eksakta yakni teknik mesin, antara lain dikemukakan oleh Rektor bersama-sama dengan yayasan uniska antara lain oleh Drs.H.M.Amberipane (Rektor), Drs.Muhammad Alfani M.Si.(pembantu Rektor), H.Sybelie Mahmud ,BA (Karo Amd Umum Dan Keuangan) serta H.Sutera Alie Syahir (ketua II Yayasan). gagasan pendirian fakultas teknik tersebut didukung oleh anggota senat uniska dan yayasan uniska, sehingga ditunjuklah pembantu Rektor 1 sebagai penanggung jawab pendirian, dan Drs.Ir.H.Sanusi ditunjuk sebagai ketua panitia pendirian fakultas teknik dengan sebagian (18%) mengunakan dana UNISKA dan sekitar 82% menggunakan dana pribadi bapak H.Sadjoko (ketua Umum Yayasan)
Atas dukungan kopertis wilayah XI dan civitas akademika uniska, maka pada tahun 1998 telah berdiri Fakultas Teknik Uniska Program DIII Teknik Mesin sesuai Surat Keputusan. Dirjen dikti no 289/dikti/kep/1998 tanggal 14 agustus 1998 tentang status terdaftar. Demikian pula dalam tahun 1998 ini telah terjadi perubahan nama Fakultas Syariah Uniska Program Studi Muamalat Jinayat sesuai dengan SK Dirjen Binbaga Islam no E/163 /1998 tentang status terdaftar menjadi Fakultas Agama Islam Program Studi Muamalat. Sehingga terhitung tahun akademik 1998/1999 uniska telah memiliki 6 Fakultas dengan 8 program studi. Program studi yang di laksanakan dalam kurun waktu yang cukup lama masih mampu berkompetisi dalam penempatan tenaga kerja.
Ke-6 fakultas dan 8 program studi tersebut adalah Fisip dengan program studi Administrasi Negara Dan Jurnalistik. Fkip dengan program Bimbingan Konseling dan Bahasa Inggris, Fakultas Ekonomi dengan program studi Manajemen, Fakutas Agama Islam dengan program studi Muamalat, Fakultas Ternak dengan program studi Produksi Ternak, dan Fakultas Teknik dengan program DIII Teknik Mesin dan S1 dengan Teknik Informatika dan Teknik.
Pada ahun 1998 dari 8 program studi di ajukan 6 program studi di usulkan kepada kepada badan akreditasi nasional(BAN-PT) untuk dilakukkan verifikasi dan berhasil dengan peringkat “C” 5 program studi sedangkan 1 program studi belum berhasil dan dalam kurun waktu singkat akan di ajukan kembali untuk dilakukan verifikasi ulang untuk mendapatkan peringkat B, hal ini dilakukan untuk mengimbangi tuntutan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi, maka universitas islam kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary pada tahun 2001/2002 di ajukan kembali 5 program studi untuk diverifikasi gun Kenaikan peringkat (B/A/A+) dan mengajukan 2 program studi untuk peringkat minimsl “C” pada saat ini Tim Assesor BAN-PT telah melkukkan kegiatan penilaian dan evaluasi untuk seluruh program studi yang di ajukan untuk diverifikasi.
Tahun 2002 program studi bimbingan konseling dan bahasa ingris dan tahun 2004 program studi Administrasi berhasil mendapat peringkat “B” dari badan Akreditasi nasional (BAN-PT). Sementara program studi produksi ternak, manajemen dan komunikasi jurnalistik baru mendapatkan peringkat “B” pada bulan oktober tahun 2006.
Penambahan fakultas baru, sehingga di usulkan fakultas kesehatan masyarakat, alasan dipilihnya program studi ini adalah karena kebutuhan tenaga kesehatan di wilayah kalimantan selatan masih di butuhkan, maka Rektor mengusulkan melalui senat dan yayasan uniska yang selanjutnya mendapat tanggapan positif dari civitas akademika. Fakultas kesehatan masyarakat mulai menerima mahsisiwa baru secara resmi pada tanggal 15 september 2003 oleh wakil gubernur propinsi kalimantan selatan (dr.H.Husin kasah)yang disaksikan oleh wakadis kesehatan propinsi kalimantan selatan (dr.Manahan K,pangribuan) wakadis depdiknas propinsi kalimantan selatan ( Drs. Humaidi syukuri rompas), pembina yayasan uniska (H. tadjudin noor dan H.sutra alie syahir), pengurus yayasan (ir.Gt.irhamni,MT dan pengurus lainnya) yang selanjutnya tanggal 26 september 2003 telah di mulai kuliah perdana oleh Dr.H.Zairullah Azhar,M.Sc. kepada dinas kesehatan propinsi kalimantan selatan yang diikuti oleh 108 mahasiswa.
Smoga bermanfaat.

 #follow my twitter: @kurniawan_odet

ASAL MULA KOTA MUARA TEWEH


Muara Teweh adalah ibukota kabupaten Barito Utara bagian dari provinsi Kalimantan Tengah. Penduduknya merupakan suku asli Dayak Tewoyan atau juga di sebut Dayak Taboyan, Dayak Bakumpai dan Dayak Maanyan, disamping pendatang dari daerah lain. Adapun perhutanan, pertambangan batu bara dan emas serta perkebunan kelapa sawit dan karet adalah produk andalan dari kota Muara Teweh.
Di kota Muara Teweh pernah terdapat benteng peninggalan Belanda. Lokasinya dahulu terletak pada lokasi Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Barito Utara yang sekarang. Sebagai ibu kota Kabupaten, hingga sekitar menjelang tahun 1962 masih belum terdapat kendaraan roda empat di kota ini. Transportasi darat di dalam kota biasanya dilakukan dengan menggunakan sepeda roda dua sebagai alternatif berjalan kaki. Sedangkan hubungan transportasi dengan kota-kota lain disekitarnya, umumnya dengan memanfaatkan transportasi sungai, melalui sungai Barito. Di pinggiran sungai Barito ini dapat pula terlihat rumah-rumah apung yang dalam bahasa setempat disebut rumah lanting. Kendaraan roda 4 baru masuk di kota ini sekitar tahun 1962, di mulai dengan hadirnya 1 buah mobil jeep (Gaz) dan 1 buah truck, kendaraan dinas yang dimiliki oleh militer.

 Dari persfektif rumpun bahasa Dusun Barito, maka asal nama kota Tumbang Tiwei yang kemudian berubah menjadi Muara Teweh, dapat disimpulkan sebagai berikut:
  • Dalam komunitas Suku Bayan Dusun Pepas, disebut Nangei Tiwei (Nangei=Tumbang, Muara; Tiwei=Ikan Seluang Tiwei).
  • Pada komunikasi Suku Bayan Bintang Ninggi, disebut Nangei Musini (Nangei Musini=Muara Musini).
  • Pada Komunitas Suku Dusun Taboyan Malawaken, disebut Ulung Tiwei (Ulung Tiwei= Muara Tiwei, di mana Ulung Tiwei ini merupakan rumpun bahasa sebelah Timur/Mahakam. Misalnya, Ulung Ngiram disingkat Long Ngiram, jadi Ulung Tiwei disingkat Long Tiwei).
  • Pada komunitas Dusun Bakumpai/Kapuas, disebutkan Tumbang Tiwei (Tumbang Tiwei= Muara Tiwei, yang kemudian oleh kolonial Belanda dimelayukan menjadi Muara Teweh).
  • Lebih Jauh, penyebutan nama kota Muara Teweh yang berasal dari kata Tumbang Tiwei tersebut tampaknya sejalan adanya suku-suku Dusun Barito Utara, seperti dikutip dari buku “Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan”, karya Tjilik Riwut (Mantan Gubernur Kalimantan Tengah). 
Demikianlah, asal-usul nama kota Muara teweh dan jenis Suku Dusun Barito Utara. Kendatipun sama Dusunnya dan sama Dayaknya, akan tetapi Belanda malah membedakan sebutan Suku Dusun Barito dan Suku Dusun Kapuas-Kahayan. Suku Dusun Barito yang berdiam di Tanah Dusun (Doesen Landen), disebutnya Dusun Barito, Sedangkan Suku Dusun yang berdiam di Kapuas -Kahayan, disebutnya Dayak Kapuas Kahayan. Tak jelas, apa makna dan tendensi dari penyebutan mana yang berbeda tersebut.
Pada masa lalu, banyak rumah betang sebagai tempat tinggal komunitas penduduk barito utara. Diantaranya rumah betang Lebo Lalatung Tour, Pendreh, Bintang Ninggi, Lemo, Lebo Tanjung Layen, Butong, Lanjas, Nihan, Papar Pujung dan Konut Tanah Siang (Mukeri Inas, et.al ;2004).
Rumah Betang dan komunitas penduduk yang menjadi dasar cikal-bakal bagi komunitas Muara Teweh, yakni Juking Hara dan Tanjung Layen dengan beberapa ciri pertanda peninggalan sejarahnya masing-masing. Juking Hara dan daerah sekitarnya adalah tempat dikuburkannya Tumenggung Mangkusari, tempat peristiwa Bukit Bendera dan Kuburan Belanda serta tempat didirikannya benteng belanda untuk pertama kalinya Tahun 1865.
 
 Sedangkan Lebo Tanjung Layen (Lebo Tanjung Kupang) tempat kedudukan kota Muara Teweh sekarang, yakni di sekitar Masjid Jami Muara Teweh, dengan sungai Kupang yaitu sungai yang membelah Simpang Merdeka dan Simpang Perwira yang ada hingga saat ini.

Posisi Kabupaten Barito Utara pada 114° 27’ 00” – 115° 49’ 00” Bujur Timur dan 0° 58’ 30” Lintang Utara – 1° 26’ 00” Lintang Selatan.
Wilayah Barito Utara meliputi pedalaman daerah aliran Sungai Barito yang terletak pada ketinggian sekitar 200-1.730 m dari permukaan laut. Bagian selatan merupakan dataran rendah dan bagian utara merupakan dataran tinggi dan pegunungan.
Potensi terbesar kawasan ini ada pada sektor kehutanan, pertambangan (batubara dan emas), sedangkan untuk sektor perkebunan adalah kelapa sawit dan karet. Sektor kehutanan dan perkebunan karet sudah cukup lama turut menyumbang pemasukan bagi negara sedangkan sektor pertambangan seperti tambang emas juga memberi andil yang cukup besar. Tambang batu bara dan perkebunan kelapa sawit saat ini sudah mulai berproduksi yang nantinya diharapkan dapat memberikan pemasukan yang cukup besar bagi negara dan daerah.
Jumlah penduduk Kabupaten Barito Utara sekitar 120.607 jiwa dengan klasifikasi 62.439 laki-laki dan 58.168 perempuan serta jumlah Rumah Tangga sebanyak 30.445 KK (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010)

#follow my twitter: @kurniawan_odet
 Sumber: http://edho-muarateweh.blogspot.com/2012/05/muara-teweh-adalah-ibukota-kabupaten.html

Asal Usul Gitar & Gitar Listrik

Gitar adalah suatu alat musik tradisional Spanyol sehingga dipercaya bahwa alat musik ini berasal dari spanyol.
Tapi ada juga yang mengatakan bahwa sejarah gitar dimulai jauh sebelum Masehi yaitu pada jaman Babilonia.
Pada awalnya alat musik ini bentuknya kecil dan memiliki empat dawai yang masing - masing berpasangan.

Selama jaman Renaissance, alat musik gitar tidak populer dan tidak diminati masyarakat.
Namun setelah Alonso Mudarra mulai memperkenalkan alat musik ini melalui karya — karyanya maka dengan segera orang — orang mulai tertarik untuk mendengarkan dan memainkan gitar.
Dan pada saat itu gitar mulai populer dikalangan masyarakat.

Pada abad 17 atau periode Baroque dawai (string) gitar ditambahkan menjadi lima yang masing — masing dawai berpasangan, ini memungkinkan para pemain memainkan musik yang lebih kompleks dan luas.
Pada akhir abad 17 dua perubahan penting dibuat pada alat musik ini yaitu :

1.sebelumnya tiap — tiap dawai berpasangan ( ganda ) maka sekarang digantikan oleh dawai — dawai tunggal.
2.sebelumnya memiliki lima dawai maka sekarang ditambahkan menjadi 6 dawai tunggal yang sampai sekarang dipakai.

Pada periode klasik sekitar tahun 1750 — 1775 banyak melahirkan komposer — komposer gitar terkenal diantaranya Fernando Sor, Mauro Giuliani, Matteo Carcassi, D. Aguado dan Fernando Carulli.
Mereka menulis musik dan sering mengadakan konser — konser gitar di berbagai tempat.
Pada saat itu alat musik gitar sangat populer dan diminati banyak orang.
Selain itu ada juga Nicolo Paganini yang selain pemain biola terkenal juga pemain gitar yang karya — karyanya masih sering didengar sampai sekarang.

Pada akhir abad 19 instrumen gitar jatuh pamor dan banyak orang tidak mengenal alat musik ini, tapi kemudian di populerkan kembali oleh Francisco Tarrega yang adalah komposer besar gitar klasik.
Banyak Karya — karya musiknya sangat terkenal antara lain : Recuerdos de la Alhambra, Estudio Brillante, Capricho Arabe dan masih banyak lagi.
Ia juga banyak menulis dan menyusun suatu metoda untuk pengajaran gitar dan metoda pengajarannya ini menjadi standar pengajaran pada pelajaran gitar klasik sampai sekarang.
 Ia juga banyak mengajar dan tidak sedikit dari muridnya yang menjadi komposer besar seperti dirinya diantaranya adalah Miguel Llobet.

Di samping komposer — komposer gitar ada juga seorang desainer gitar yang berjasa dalam perkembangan alat musik ini yaitu Luthier Antonio Torres.
Ia mencoba menambah ukuran gitar dan mencoba meningkatkan bunyi gitar agar lebih keras dan selaras.
Ia banyak menyempurnakan bentuk gitar, seperti dia membuat leher gitar lebih lebar dan lebih tipis dari pada bentuk gitar sebelumnya.
Ia juga membuat standar dawai gitar dengan ukuran panjang 65 cm yang sampai sekarang masih di pakai.
Dari hasil eksperimennya ini maka gitar yang dibuatnya ini merupakan standar gitar modern yang dipakai sampai sekarang.
Selain Torres sebelumnya juga ada seorang yang bernama stradivarius yang selain terkenal membuat biola juga mahir membuat gitar.

Pada tahun 1946 dawai gitar yang sebelumnya terbuat dari Gut (tali yang terbuat dari usus binatang) digantikan dengan dawai yang terbuat dari nylon (string nylon). 
Dengan memakai string nylon maka suara yang dihasilkan lebih besar dan lebih bagus.

Alat musik gitar terus berkembang sampai sekarang dan sudah menjadi instrumen dunia.
Jumlah para pemain, pengajar, komposer, dan pembuat gitar saat ini sangat banyak, sekolah — sekolah dan tempat kursus gitar juga mudah di jumpai disetiap tempat bahkan sekarang ada juga majalah — majalah yang khusus membahas tentang gitar.
Karena perkembangan ilmu dan teknologi begitu pesat, instrumen gitar tidak ketinggalan juga terkena imbasnya dan sekarang kita telah mengenal yang namanya Gitar Listrik (Electric Guitar).

Asal Usul Gitar Listrik
Sejarah gitar listrik bermula pada tahun 1930, ketika seorang yang bernama George Beauchamp mulai mencari cara untuk menambah volume gitar.
Diketahui jika suatu kawat di beri gaya medan magnet maka dapat menciptakan arus listrik.
Atas dasar pemikiran ini Ia meneliti dan mengadakan suatu percobaan dengan jarum Gramopon ( pada dasarnya teknologi ini bisa didapati pada motor — motor listrik, generator, jarum gramopon, radio dan mic ).
 Ia percaya bahwa jika dawai gitar digetarkan dekat medan magnet akan bisa diubah menjadi arus —arus listrik dan kemudian dikonversi kembali menjadi gelombang suara melalui speaker.

Setelah percobaan berbulan — bulan dan bekerja sama dengan Paul Barth maka terciptalah pickup pertama yang sederhana terdiri dari 6 kutub dan tiap — tiap kutub untuk masing - masing dawai.
Pickup berisi kumparan yang digulung rapi. Menurut ceritanya, Ia mengambil kumparan itu dari mesin cuci dan melilitnya kembali dengan motor mesin jahit.
Penemuannya ini sangat dihargai dan mendapatkan hak paten.

Dengan penemuannya ini maka langkah selanjutnya Ia mencari orang yang mau bekerja sama dan membantunya dalam soal dana.
Ia menghubungi Adolph Rickenbacher temannya dulu di National String Instrument Company tempatnya bekerja.
Mereka bekerja sama dan membentuk sebuah perusahaan dengan nama Instrumens Rickenbachers.
Akhirnya Mereka mulai memproduksi gitar listrik pertama yang disebut “The Frying Pan” ( mungkin karena badan gitarnya terbuat dari panci ).
Ini yang membuat perusahaan mereka tertulis dalam sejarah sebagai pabrik yang pertama membuat dan memproduksi gitar listrik.

Selanjutnya seseorang yang bernama Lloyd Loar memperkenalkan gitar listrik yang modelnya berbentuk gitar Spanyol.
Ia dianggap yang pertama kali membuat dan memasarkan gitar model ini.
Ia telah banyak melakukan percobaan - percobaan ini mulai awal 1920 dan pada tahun 1933 mendirikan perusahaan dengan nama Vivi — Tone yang merupakan anak perusahaan dari Gibson Company.
Perusahaan ini memproduksi gitar listrik dengan bentuk gitar spanyol tapi dalam satu tahun perusahaan ini tidak berhasil.
Dari kegagalan ini, akhirnya mengilhami Gibson Company untuk mencoba melanjutkan menciptakan gitar listrik.
Dari usaha — usaha yang dilakukan maka terciptalah gitar listrik ES—150 yang nantinya menjadi perintis gitar — gitar listrik selanjutnya.

Sejarah gitar listrik berlanjut pada tahun 1933 pada saat Alvino Rey yang juga bekerja pada Gibson Company mengembangkan Pickup gitar listrik yang lebih baik selain kualitas suara bentuknya juga diubah.

Di balik Kesuksesan ES-150 masih didapati banyak kekurangan, karena badan gitar yang berongga maka getaran dari badan gitar juga ditangkap pickup sehingga ikut terdengar pada amplifier.
Selain itu sering terjadi feedback dan suara —suara yang tak diinginkan.
Karena itu seorang gitaris jazz terkenal Les Paul memperkenalkan solusi baru untuk membuat badan gitar padat dan tak berongga.
Pada akhirnya Ia sukses membuat gitar badan padat dan menghasilkan suara yang bagus tanpa feedback atau suara — suara yang tidak dikehendaki.
Selain itu Ia menambahkan pickup pada badan gitarnya menjadi dua.
Pada tahun 1946 Ia membawa gitarnya ini ke Gibson tetapi ditolak dengan alasan konsumen kurang tertarik dengan gitar badan padat. Ia merasa kecewa karena usaha yang Ia rintis akhirnya gagal.

Tidak lama kemudian seorang yang bernama Leo Fender percaya bahwa gitar yang dibuat oleh Les paul dengan gitar badan padatnya akan banyak diminati oleh para konsumen. Akhirnya pada tahun 1943 Ia membuat gitar badan padat yang terbuat dari kayu pohon Ek dan menyewakannya kepada para musisi agar mendapat banyak dukungan. Akhirnya pada tahun 1949 Leo Fender mendapatkan kesuksesannya dengan model gitar badan padatnya dan mendapatkan penghargaan.

Melihat kesuksesan Leo Fender dengan gitar badan padatnya maka Gibson Company Akhirnya kembali melihat contoh gitar Les Paul dan mendisainnya ulang.
Pada tahun 1952 diputuskan untuk memproduksi gitar badan padat dan menjadi suatu standar industri.
Walaupun inspirasinya datang dari Les Paul gitar Gibson yang sekarang kita kenal dinamai menurut nama perusahaannya.


Pada tahun 1961 Ted McCarty memperkenalkan ES-335 suatu gitar semi-hollow yaitu gabungan antara gitar berongga dan gitar badan padat.
Dengan cepat gitar ini menjadi populer digunakan para gitaris — gitaris jazz diantaranya adalah BB King dan Chuck Berry.


Gibson dan Fender adalah perusahaan pembuat gitar yang telah berjasa mengembangkan instrumen ini khususnya gitar listrik dengan disain — disain yang futuristik.
Keduanya sudah menjadi standar gitar bagi para musisi, seperti sekarang kita mengenal Gibson SG atau Fender Stratocaster.
Setelah kedua perusahaan tersebut telah berhasil mengembangkan gitar listrik, maka mulailah banyak bermunculan perusahaan — perusahaan lain yang memproduksi gitar listrik sampai sekarang.


#follow my twitter: @kurniawan_odet
Sumbe: http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2010/10/asal-usul-gitar-gitar-listrik.html